Belitung Dalam Kenangan

Part. 2. Kontrakan Wak Zoel

Di Belitong, aku tinggal bersama Idris. Ia satu kantor dengan ku di Kejaksaan Negeri Tanjong Pandan Belitong. Sahabat ku Iyan, ia beda kantor dengan ku. Kantor Iyan di Cabang Kejaksaan Negeri Tanjong Pandan di Manggar Belitong Timur. Sekarang Cabang Kejaksaan Negeri Tanjong Pandan di Manggar telah berdiri sendiri menjadi Kejaksaan Negeri Manggar. Iyan sering ke Tanjong Pandan, karena bila ada sidang kami sidang di tempat yang sama di Pengadilan Negeri Tanjong Pandan. Di Manggar belum mempunyai Pengadilan Negeri. Karena sering bolak-balik ke Tanjong Pandan, Iyan akhirnya tinggal di rumah kontrakan di Kampong Ujong Tanjong Pandan. Pagi buta setiap hari Senin, Iyan berangkat ke Manggar dengan bus dari terminal Tanjong Pandan.

Aku bersama Idris tinggal di rumah kontrakan milik Pak Zulkarnain, orang-orang Belitong biasa memanggilnya dengan sebutan Wak Zul. Sehari-hari, Wak Zul bekerja sebagai perangkai bunga. Seperti rangkaian bunga ucapan selamat atas pernikahan, ucapan bela sungkawa, ucapan selamat atas peresmian kantor dan ucapan selamat atas pelantikan pejabat-pejabat pemerintahan di Belitong.

Sahdan, menurut cerita Wak Zul, ilmu merangkai bunga ia dapatkan tatkala merantau ke tanah Jawa. Lebih dari dua puluh tahun ia habiskan waktunya di pulau Jawa. Dan kini, di usianya yang mulai senja, Wak Zul pulang ke kampong halamannya menghabiskan sisa usianya di Belitong. Anak laki-lakinya, membuka bengkel sarung jok motor dan menjual bensin, tepat di depan kantor ku di jalan Sriwijaya. Seingat ku bengkelnya cukup ramai.

Rumah kontrakan milik Wak Zul berada di jalan Kamboja Desa Paal satu. Kawan, kalian pasti tau kenapa nama jalan itu Kamboja. Kalian pasti berpikir ada makam disitu, sehingga jalannya dinamakan jalan Kamboja. Kawan benar, di depan kontrakan Wak Zul, diseberang jalan terdapat pemakaman umum. Seingatku jalan Kamboja memiliki tiga gang, yaitu gang Kamboja satu hingga Kamboja tiga. Semua gang ini tembus di jalan Kamboja di depan kontrakan Wak Zul.

Rumah kontrakan milik Wak Zul mempunyai dua kamar tidur. Satu kamar tidur sebelah dalam aku tempati dan satunya lagi di sebelah depan ditempati Idris. Kontrakan ini memiliki ruang tamu, dapur dan kamar mandi serta berlantai semen. Halamannya cukup luas, tepat di depan teras kontrakan tumbuh sebatang pohon duku, di samping kiri sebatang pohon jambu air berdiri rindang, sedangkan di depan dekat jalan sebatang pohon kelapa puyuh mulai belajar berbuah. Kontrakan Wak Zul, cukup nyaman bagi ku.

Di halaman rumahnya Wak Zul menanam berbagai jenis bunga, diantaranya yang ku ingat yaitu beberapa jenis bunga anggrek. Di belakang rumah Wak Zul memelihara ayam kampong di kandang yang tak terlalu besar. Ayam-ayam itu rajin bertelur, Wak Zul sering menitipkan telor-telor ayam kampong di toko-toko cina kenalannya di pasar Tanjong Pandan untuk dijual. Sungguh bersaja hidup laki-laki tua itu dan aku menaruh hormat kepadanya. Di usianya yang tak muda lagi, Wak Zul masih tetap semangat menjalani hidup.

Tak jauh dari kandang ayam peliharaannya, Wak Zul juga menanam beberapa batang pohon manggis. Aku masih ingat, tatkala pohon-pohan manggis itu berbuah, Wak Zul selalu memberi kami. Aku senang, menerima pemberiannya. Kulit buah manggis yang telah masak berwarna merah gelap dan daging buahnya yang berwarna putih sangat manis. Buah manggis hasil kebun Wak Zul, ia jual. Aku sering melihatnya berjualan buah manggis malam hari di jalan Sriwijaya.

Di samping kanan kontrakan kami, anak perempuannya tinggal. Aku memanggilnya tante Yul. Tante Yul, tinggal bersama tiga anak perempuannya. Ia menjadi orang tua tunggal bagi ke tiga buah hatinya. Aku tak pernah tau suaminya dan aku tak pernah menanyakan hal itu. Tante Yul, sehari-hari membanting tulang sebagai tukang cuci pakaian.

Lingkungan tempat tinggal ku, memberi pelajaran hidup yang sangat bermakna. Hidup bersahaja, tentram dan tidak pernah mengeluh. Mereka seperti saudaraku. Ketika rasa rindu akan keluarga ku di Lampung berkecamuk di dada, mereka menjadi obat yang mampu menenangkan kerinduan ku akan keluarga ku. Aku sangat menghormati mereka.
***

Pos ini dipublikasikan di Cerita, Kisah, Novel, Pembangun Jiwa. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Belitung Dalam Kenangan

  1. koko berkata:

    hmmm… kebetulan saya kenal sekali dengan wak Zul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s