Belitung Dalam Kenangan

Part. 4. Teman Setia Ku Di Warnet Kampong Parit

Kawan, sebenarnya aku ingin menyimpan dalam-dalam kisah ini. Cukuplah menjadi kisah klasik buat ku kenang. Aku takut dibilang terlalu berlebihan bila mengisahkannya disini. Tapi setelah ku pikir-pikir, tak apalah aku bagi saja kisah ini dengan kalian. Karena, tak ada gunanya juga kusimpan, toh cerita Ini bukanlah aib yang harus disimpan rapat-rapat, lalu dimasukkan ke dalam peti dan di tenggelamkan di sungai Cerucuk agar terkubur bersama lumpur.

Kawan, kalau kalian ke Tanjong Pandan melalui pintu masuk Bandara Hanandjoeddin menuju kota Tanjong Pandan, setelah melewati hutan-hutan kecil dan kampong-kampong melayu, kalian pasti melintasi sebuah jembatan dan di bawah jembatan itu sungai Cerucuk mengalir. Janganlah membayangkan sungai Musi yang ada di Palembang, karena sungai ini sama sekali tidak besar. Dari atas jembatan itu, kalian dapat melihat sungai Cerucuk. Airnya berwarna Coklat pekat. Aku tak yakin ikan hidup dalam sungai itu.

Baiklah, aku mulai saja kisah ini. Usia laki-laki itu memang tak lagi muda, uban dikepalanya tak bisa membohongi usianya. Tapi, jiwanya selalu muda. Mungkin sudah lebih dari dua puluh lima tahun laki-laki itu menghabiskan waktunya untuk mengabdi. Banyak hal yang ia tahu tentang sejarah kantor kami. Ia masih ingat dengan jelas orang-orang yang pernah tugas di sini. Beberapa orang yang masih diingatnya, kini telah menjadi orang-orang sukses.

Aku sangat menaruh hormat kepadanya. Aku memanggilnya papi, bagiku itu sebutan terhormatku padanya. Sebutan itu, akhirnya melekat padanya. Teman-teman kantorpun hingga saat ini, yang ku tau masih memanggil laki-laki itu dengan sebutan papi. Sebutan yang dulu kuberikan kepadanya, padahal aku tahu kedua anak laki-lakinya tak pernah memanggilnya dengan sebutan itu, karena sedari kecil mereka memanggil ayah mereka dengan sebutan Abah.

Papi sangat menyukai tanaman, terutama bunga. Dirumahnya berjejer pot-pot bunga. Ada kantong semar, kaktus, bougenvil, bonsai dan beberapa lagi yang aku lupa namanya. Bunga-bunga itu tersusun rapi di halaman rumahnya. Sungguh indah di pandang mata. Bunga-bunga itu merupakan hasil tanamannya. Aku masih ingat dengan jelas, bila ada acara penting di kantor bunga-bunga miliknya sering kami pinjam untuk membuat taman dan memperindah kantor.

Papi mahir dan gemar menggunakan Komputer. Terakhir sebelum aku pindah ke Lampung, ia membeli sebuah laptop. Aku tahu laptop itu telah lama ia idam-idamkan dan dengan uang tabungan yang ia kumpulkan, benda ajaib itu berhasil ia miliki. Dengan laptopnya, papi membantu membuatkan berbagai surat-surat penting untuk keperluan kenaikan pangkat kami. Padahal pangkatnya sendiri tak pernah ia pikirkan. Aku pernah tanya mengenai hal ini, ketika itu ia sudah lebih dari tujuh tahun tak mengurus kenaikan pangkat. Ia beralasan kalau naik pangkat nanti dipindah-pindahkan ke daerah lain. Sungguh suatu jawaban polos yang membuat ku tersenyum kala itu.

Di waktu libur kami sering berkunjung ke Warung Internet Kampong Parit. Dua sampai tiga jam kami menghabiskan waktu untuk menjelajah dunia maya. Sekedar untuk mengirim email atau menulis blog. Rasa ingin taunya begitu besar tentang internet. Bagi laki-laki seusianya, internet mungkin barang langka dan aku yakin banyak diantara mereka sama sekali tidak tau. Maklum, di zaman mereka sekolah dulu, ilmu itu tidak mereka dapatkan dari Ayahanda dan Ibunda Guru. Ia, tak menyerah dengan keadaan. Ia, selalu ingin tau tentang hal-hal baru termasuk internet.

Aku masih ingat, betapa senangnya ketika ia ku perkenalkan dengan web blog. Seperti blog spot, wordpres, friendster, friendplay dan facebook. Dengan cepat, papi akrab dengan website jejaring sosial tersebut. Ia, sangat menikmatinya. Dunia tidak lagi jauh katanya suatu ketika.
***

Pos ini dipublikasikan di Cerita, Kisah, Novel, Pembangun Jiwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s