Belitung Dalam Kenangan

Part. 5. Nasi Goreng Ikan Asin Kafe Begalor

Kawan, kala malam menjelang di Tanjong Pandan. Tempat-tempat hiburan malam mulai menggeliat. Kafe-kafe di sepanjang pantai Tanjong Pendam bersiap menerima tamu-tamunya. Ada dua malam yang paling ramai di Belitong yaitu malam Minggu dan malam Kamis. Dua malam tersebut, kafe-kafe di Belitong penuh sesak oleh pengunjung. Anak-anak muda Belitong paling sering menghabiskan malam di kedua malam itu.

Di kedua malam itu jalanan kota Tanjong Pandan penuh sesak oleh sepeda motor. Di Belitong, sepeda motor merupakan sarana transportasi yang paling utama. Setiap rumah aku yakin paling tidak mempunyai satu sepeda motor. Kalian bisa bayangkan, bila sepeda motor itu keluar di malam Minggu dan malam Kamis, jalanan akan padat, penuh sesak.

Aku bersama Iyan, P’De, Onge dan Putirai sering menghabiskan malam di Kafe Begalor. Band lokal Belitong sering tampil disini. P’De sering menyumbangkan suaranya di sini. Di bawah cahaya bulan dan bintang di langit Belitong kami menghabiskan malam disini. Aku punya kenangan khusus di Begalor tentang perasaan ku. Tapi kawan, aku akan ceritakan nanti, bukan saat ini.

Kafe Begalor milik keluarga Tante Hatika. Pengusaha sukses di Belitong. Aku mengenal dekat Tante Hatika dan keluarganya. Dari keluarganya, aku tau riwayat Kafe Begalor. Dulu Kafe Begalor merupakan rumah teh. Beraneka macam teh dari Indonesia dan dunia dapat kita nikmati disini. Penggemarnya cukup banyak di Belitong. Seiring waktu, usaha rumah teh keluarga Tante Hatika semakin maju. Sampai akhirnya rumah teh keluarga Tante Hatika berkembang menjadi Kafe Begalor seperti yang kulihat sekarang. Sebagai orang rantau, aku sangat beruntung mengenal keluarga Tante Hatika. Mereka begitu ramah dan menganggap ku bagian dari keluarga mereka. Dimataku, mereka keluarga yang ulet dan pekerja keras.

Di kafe Begalor, nasi goreng ikan asin menjadi pilihan menu favorit ku. Nasi, rajikan bumbu, ikan asin tenggiri di potong kecil-kecil menyerupai dadu dan sejenis kacang-kacangan digoreng dengan sedikit mentega. Setelah matang lalu dihidangkan beserta irisan tomat segar, ketimun dan kerupuk ikan asli Belitong. Rasanya, setidaknya menurut ku sangat enak. Ah, kawan aku manjadi malu menceritakan ini, maklum selera ku memang seperti itu. Aku cinta masakan asli daerah kita. Lidah ku terbiasa makan nasi goreng. Aku masih ingat dengan pasti, diwaktu kecil, Ibunda ku tak akan membiarkan aku dan adik-adik ku berangkat ke sekolah tanpa terlebih dahulu makan nasi goreng dan minum segelas teh manis hangat buatannya. Kawan, nasi goreng buatan Ibunda ku tetap yang terenak di dunia, setidaknya bagi ku dan adik-adik ku.
***

Pos ini dipublikasikan di Cerita, Kisah, Novel, Pembangun Jiwa. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s