KANGEN BAND “Masihkah Mereka Dihina”

Coba kau pikirkan

coba kau renungkan

apa yang kau inginkan

telah aku lakukan

coba kau pikirkan

coba kau renungkan

tanya bintang-bintang

hanya kaulah yang ku sayang

coba kau katakan

apa yang kau inginkan

apa yang kau butuhkan

telah aku berikan

coba kau katakan

apa yang kau inginkan….

Grup band anak muda asal Lampung ini kini kembali meramaikan blantika musik tanah air dengan album kedua mereka dengan lagu andalan “DOI”. Suara Andika sang vokalis kini akrab kembali ditelinga para pecinta grub ini mendendangkan lirik lagu diatas. Kesuksesan grub musik ini pada awalnya sempat mendapatkan cemoohan pedas dari sebuah grup rapper yang mengatakan KANGEN BAND ini tak lebih dari pengamen kampung yang tenar karena CD bajakan. Namun apapun bentuk cemoohan itu, hadirnya album kedua mereka yang kini mulai diputar di station radio dan televisi tanah air, KANGEN BAND telah membuktikan bahwa mereka pantas meramaikan musik tanah air.

Akankah mereka kembali menuai cemoohan seperti pada awal kemunculan mereka?

Mereka Yang Tak Bisa Sekolah

MESKIPUN pendidikan gratis terus didengung-dengungkan, pada kenyataannya biaya pendidikan terus meningkat. Sejumlah orang tua merasa harus menabung penghasilannya bertahun-tahun demi menyekolahkan anak. Sementara itu, sebagian lagi terpaksa menghancurkan impian anaknya untuk terus sekolah karena tidak ada biaya.

Untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya, banyak orang tua terpaksa harus banting tulang hingga larut malam. Apa pun dikerjakannya asal bisa mendapatkan uang yang halal. Demi untuk tetap sekolahnya anak-anak mereka.

Isu Santet Melalui HP “Menyesatkan”

Beberapa hari terakhir, sebagian daerah di hebohkan isu melalui sms yang mengabarkan bahwa bila ada nomor hp 0866 atau 0666 menghubungi agar jangan diterima, karena bila diterima bisa menyebabkan “kematian” pemilik nomor tersebut sedang menguji ilmu hitamnya. Dalam sms itu juga disebutkan bahwa korban jiwa sudah berjatuhan di Jakarta, Batam. Bengkalis dan Lampung.

Isu yang sangat menyesatkan ini, sangat meresahkan sekali. Di Belitung, aparat Kepolisian Belitung sudah menyikapi isu yang meresahkan ini dengan menyampaikan himbauan agar masyarakat tidak perlu menanggapi isu ini dan berharap agar masyarakat tetap tenang.

Ada apa dibalik beredarnya isu yang menyesatkan ini ? apakah ada persaingan tidak sehat antar operator selular tanah air? Barang kali rekan blogger ada komentar, saya persilahkan. Terima kasih salam blog, tetap semangat.

Pesona Pantai Parai Bangka

Pagi itu, Selasa 22 April 2008 hujan baru saja reda menyirami Pulau Bangka. Ini hari kedua ku di Bangka. Awan hitam masih berarak di langit Kota Pangkal Pinang. Udara dingin berhembus pelan menerobos masuk ke dalam celah-celah bangunan dua lantai tempat aku menginap.

Bangunan ini merupakan mess Pemerintahan Daerah Kabupaten Belitung Timur. Keberadaan mess ini sangat membantu sekali, seperti halnya aku saat ini yang harus berada di Bangka selama tiga hari dalam rangka dinas. Sejak sehari sebelumnya aku sudah tiba di Bangka dengan menumpang kapal cepat dari Tanjungpandan Belitung. Walaupun acara baru akan dimulai pada hari Rabu, tapi hari Senin aku harus berangkat karena kapal cepat tidak berlayar pada hari Selasa.

Hari ini setelah hujan reda, saya berkesempatan mengunjung Pantai Parai di daerah Sungat Liat Bangka. Pantai  dengan hamparan pasir putih yang bersih dan batu-batu granit. Rasa lelah seketika lenyap ketika menyaksikan keindahan pantai ini. Pantai ini tak kalah cantik dengan pantai-pantai yang ada di Pulau Belitung. Ciri khas pantai-pantai yang terdapat di kedua pulau ini, yaitu selalu ada batu-batu granit berukuran besar yang bertebaran sepanjang pantai sehingga menambah kesan eksotiknya pantai-pantai yang ada di sini.

Rapuhnya Kehidupan

Betapa rapuhnya kehidupan ini, setiap hari bisa menjadi terakhir bagi kita dan setiap napas bisa menjadi napas terakhir bagi kita. Segala yang ada dalam hidup kita semua milik-Nya, kita hanya hamba yang bernoda dosa dan semua akan kembali kepada-Nya.

Semoga jalan lurus itu selalu ada di hati kita, untuk bersama-Nya di surga.

Aku ingin berteduh di bawah rindangnya pohon-pohon surga-Mu, aku ingin di taman nan indah di tanah surga-Mu, aku ingin bersama orang-orang pilihan-Mu yang selalu mengagungkan-Mu.

Kisah Pembangun Jiwa

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL

(Bagian I)


Kisah Pembangun Jiwa…
Tentang masa-masa kecil Yusril Ihza Mahendra
Bintang itu bersinar dari negeri nun jauh disana..Manggar Beltim


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Syahdan menurut ibu saya, saya dilahirkan pada hari Selasa, tanggal 5 Pebruari 1956 di Kampung Lalang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Tanggal kelahiran itu pasti, bukan rekaan, karena saya melihat buku harian ayah saya, yang mencatat dengan teliti berbagai peristiwa penting dalam keluarga dan kehidupannya. Saya dilahirkan di rumah kakek saya dari pihak ibu dalam sebuah kamar, yang dapat saya saksikan sampai tahun yang lalu, sebelum rumah tua terbuat dari kayu itu dirubuhkan karena sudah dimakan rayap. Ibu saya sebenarnya ingin melahirkan saya di rumah sakit. Namun ambulan yang dipanggil, rupanya sedang menjemput orang lain yang juga ingin melahirkan. Saya sudah lahir lebih dahulu, ketika ambulan tiba ke rumah. Hanya kakek dan nenek saya yang membantu ibu saya melahirkan. Setelah itu barulah bidan dan jururawat datang ke rumah dan membantu, ketika bayi sudah dimandikan dan diberi baju .

Saya lahir sebagai anak yang ke enam.Sesudah saya masih ada lima lagi anak-anak yang lahir dari orang tua saya. Seluruhnya ada sebelas orang. Dengan posisi anak keenam, saya berada di urutan tengah. Punya lima kakak dan punya lima adik. Keluarga kami hidup dengan sederhana dan bersahaja. Rumah keluarga kami, terbuat dari kayu menggunakan dinding dari kulit kayu pula. Atapnya sebagian terbuat dari sirap kayu bulian, dan sebagiannya lagi terbuat dari daun nipah. Rumah itu terletak di belakang pekarangan rumah kakek saya dari pihak ibu. Saya tidak dapat lagi mengingat rumah itu. Namun foto rumah itu masih ada. Tidak lama sesudah saya lahir, keluarga kami pindah ke rumah yang dibuat oleh ayah saya sendiri. Rumah itu terletak di Kampung Sekip. Rumah inipun terbuat dari kayu, berdinding kulit kayu juga, dan beratapkan daun nipah. Foto rumah inipun masih ada, yang dibuat ayah saya di tahun 1958. Ayah saya banyak menyimpan foto-foto lama berwarna hitam puith yang sampai sekarang masih disimpan ibu saya dengan baik. Ketika usia saya dua tahun, keluarga kami pindah ke Tanjung Pandan. Ayah saya, yang semula menjadi penghulu mengurus hal-ikhwal perkawinan, rupanya diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di kota itu. Read more »

“Kisah Keajaiban Cinta”

Jika engkau bukan seorang pencinta, maka jangan pandang hidupmu adalah hidup. Sebab tanpa Cinta, segala perbuatan tidak akan dihitung pada Hari Perhitungan nanti. Setiap waktu yang berlalu tanpa Cinta, akan menjelma menjadi wajah yang memalukan dihadapanNya.

Burung-burung Kesedaran telah turun dari langit dan terikat pada bumi sepanjang dua atau tiga hari. Mereka merupakan bintang-bintang di langit agama yang dikirim dari langit ke bumi. Demikian pentingnya Penyatuan dengan Allah dan betapa menderitanya Keterpisahan denganNya.

Wahai angin, buatlah tarian ranting-ranting dalam zikir hari yang kau gerakkan dari Persatuan. Lihatlah pepohonan ini ! Semuanya gembira bagaikan sekumpulan kebahagiaan. Tetapi wahai bunga ungu, mengapakah engkau larut dalam kepedihan ? Sang lili berbisik pada kuncup : “Matamu yang menguncup akan segera mekar. Sebab engkau telah merasakan bagaimana Nikmatnya Kebaikan.”

Di manapun, jalan untuk mencapai Kesucian Hati adalah melalui Kerendahan Hati. Hingga dia akan sampai pada jawaban “YA” dalam pertanyaan : “Bukankah Aku ini Rabbmu ?”

Dari Jalaluddin Rumi